Komunikasi efektif adalah pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap sehingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi pesan dan penerima pesan. Pengukuran efektifitas dari suatu proses komunikasi dapat dilihat dari tercapainya tujuan si pengirim pesan.
a. Teori
Model Komunikasi David K. Berlo yang terkenal yakni SMCR terdapat unsur-unsur Source, Medium, Channel dan Receiver. Murid Wilbur E. Schramm ini memasukkan berbagai elemen komunikasi sebagaimana yang sudah diungkapkan gurunya seperti source, encoding, message, decoding dan receiver. Berlo memberi penekanan lebih pada komunikasi sebagai sebuah proses. Mengelaborasikan antara pesan dan saluran serta memperluas konsep fidelity atau ketepatan.
Berlo memandang segala sesuatu bisa menjadi pembawa pesan, misalnya saja
melalui algoritma yang disalurkan melalui perlengkapan komputer. beberapa
energi juga bisa membawa pesan misalnya listrik,udara dan cahaya. Untuk
mencapai komunikasi yang efektif komunikan sebaiknya memperhatikan cara dalam
menyajikan sebuah pesan, baik secara verbal ataupun nonverbal. Suara yang
bagaimana yang paling efektif digunakan dalam berbagai situasi.
Tipe-gambar atau diagram, animasi, video seperti apakah yang sebaiknya
digunakan untuk mencapai efektifitas komunikasi dalam beragam situasi. Untuk
mencapai efektiftas dalam komunikasi dibutuhkan beragam kombinasi dari cara
itu.
Konsep Fidelity (ketepatan) yang disampaikan Berlo, menilai suatu proses
komunikasi bisa diukur efektifitasnya dilihat dari tercapai atau tidaknya
tujuan dari si pengirim pesan. Ketepatan ini bisa diterapkan dalam keseluruhan
komunikasi ataupun komponen komunikasi. Ada 4 faktor yang bisa membangun
ketepatan dalam komunikasi yakni:
- Keterampilan komunikasi
- Perilaku
- Level pengetahuan
- Posisi sosial budaya
b. Penerapan
· Komunikasi verbal efektif
· Berlangsung secara timbal balik.
· Makna pesan dapat disampaikan secara ringkas dan jelas
· Bahasa yang digunakan mudah untuk dipahami.
· Cara penyampaian mudah diterima.
- Disampaikan secara tulus.
- Mempunyai tujuan yang bisa ditangkap jelas.
- Memperhatikan norma yang berlaku.
- Disertai dengan humor atau cara-cara menyenangkan lainnya.
Komunikasi nonverbal efektif
- Penampilan fisik yang meyakinkan lawan bicara.
- Sikap tubuh dan gesture.
- Ekspresi wajah.
- Sentuhan.
c. Tipe
- Intrapersonal: Berkomunikasi dengan diri sendiri.
- Interpersonal: Komunikasi yang dilakukan antara 2 orang.
- Small group: Komunikasi yang dilakukan lebih dari dua anggota, dimaa anggota kelompok memiliki porsi berkomunikasi secara seimbang.
- Public: Komunikasi yang dilakukan dalam grup yang besar ,sehingga terlalu besar bagi keseluruhan anggota untuk bisa seimbang dalam berkomunikasi.
- Komunikasi Massa: terdiri dari beberapa pesan yang ditransmisikan dalam jumlah yang besar kepada beberapa orang sekaligus pada saat bersamaan. Disalurkan melalui berbagai sumber baik Elektronik,cetak,Televisi, radio, Majalah dll. Tidak ada kontak secara personal antara pengirim dan penerima pesan.
- Komunikasi Interaktif: ada stimulus dan respon
d. Hambatan
Hambatan adalah faktor-faktor yang dapat mengganggu penerimaan suatu
pesan. Karena terganggu maka penerima pesan juga bisa salah dalam memaknai
balik pesan yang diterima.
Faktor yang berpotensi menjadi penghambat dalam komunikasi yang efektif
adalah:
- Perbedaan Status sosial antara komunikan dan komunikator. misalnya saja karyawan harus tunduk atau patuh terhadap apapun yang dikatakan atasannya, sehingga karyawan tersebut takut menyampaikan aspirasi atau pendapatnya.
- problem semantik, menyangkut bahasa yang digunakan komunikator dalam menyampaikan pesan. Kesalahan penyebutan bisa mengakibatkan sebuah kesalah - pahaman dan beda penafsiran.
- Distorsi persepsi, disebabkan perbedaan cara pandang yang sempit pada diri sendiri dan perbedaan cara berpikir pada orang lain. Hal ini menimbulkan hambatan perbedaan persepsi dan wawasan satu dengan yang lainnya.
- Perbedaan Budaya, dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras dan bahasa serta agama yang berbeda sehingga ada beberapa penggunaan kata yang memiliki arti berbeda pada tiap suku.
- Gangguan fisik, gangguan lingkungan fisik seperti suara riuh orang-orang, suara petir,hujan dan cahaya yang kurang jelas.
- Keterbatasan saluran komunikasi, gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi misal sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang tenggelam, atau gambar yang buram.
- Tidak ada umpan balik/tanggapan, hambatan dimana pesan yang disampaikan sang pengirim tidak di beri tanggapan. Maka yang selanjutnya terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia dan tidak efektif.
2.2 Unsur-Unsur Komunikasi Efektif
Untuk menciptakan sebuah
komunikasi yang efektif, maka sebuah proses komunikasi harus mengandung
unsur-unsur komunikasi. Unsur-unsur komunikasi setidaknya harus terdiri dari
enam hal, yaitu sumber, komunikator, pesan, channel, komunikasi itu sendiri,
dan efek.
1. Sumber
Sumber sebagai salah satu
unsur dalam unsur-unsur komunikasi adalah dasar yang digunakan dalam
penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan yang hendak
disampaikan. Sumber sebagai salah satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat
berwujud dalam berbagai bentuk. Sumber dapat berupa orang, lembaga, buku,
dokumen, dan lain sebagainya.
2. Komunikator
Komunikator sebagai salah
satu unsur dari unsur-unsur komunikasi dapat dipahami sebagai orang yang
membawa dan menyampaikan pesan. Dalam komunikasi, komunikator memiliki peranan
yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan dalam memengaruhi komunikan
(penerima pesan). Komunikator harus memiliki ketrampilan untuk memilih sasaran
dan menentukan tanggapan yang hendak dicapai. Sebelum melakukan proses
komunikasi, komunikator harus memperhitungkan apakah komunikan mampu menangkap
pesan yang disampaikannya. Komunikator juga harus bisa menentukan media yang akan
digunakan untuk melakukan persuasi sehingga lebih efisien dalam mencapai
sasaran.
3. Pesan
Unsur-unsur komunikasi yang ketiga adalah pesan. Pesan sebagai salah
satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat dipahami sebagai materi yang
diberikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan oleh
komunikator dalam berbagai cara, misalnya saja melalui kata-kata, nada suara,
hingga gerak tubuh dan ekspresi wajah.
Pesan sebagai salah satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat
berwujud dalam berbagai bentuk, diantaranya:
a. Pesan informatif
Pesan informatif bersifat memberikan keterangan-keterangan atau
fakta-fakta yang menuntun komunikan untuk mengambil keputusan
b. Pesan persuasif
Pesan persuasif adalah pesan yang berisikan bujukan yang bertujuan untuk
memberikan perubahan sikap komunikan. Perubahan yang terjadi merupakan
perubahanan yang tidak dipaksakan, melainkan berasal dari kehendak diri
sendiri.
c. Pesan koersif
Pesan koersif adalah kebalikan dari pesan persuasif. Pesan koersif bersifat
memaksa dengan mengandalkan sanksi-sanksi untuk menekan komunikan.
4. Channel
Channel merupakan
unsur-unsur komunikasi yang selanjutnya. Channel merupakan saluran penyampaian
pesan atau sering juga disebut dengan media komunikasi. Media komunikasi dapat
dibagi ke dalam dua kategori, yakni media komunikasi personal dan media
komunikasi massa. Media komunikasi personal digunakan oleh dua orang atau lebih
untuk saling berhubungan. Sifat dari media komunikasi ini pribadi, sehingga
dampaknya tidak bisa dirasakan oleh orang banyak. Contoh dari media komunikasi
personal adalah telepon, aplikasi chatting (whatsapp, line, BBM), dan
juga Skype.
Media komunikasi yang kedua adalah media komunikasi massa. Media
komunikasi ini digunakan untuk mengkomunikasikan pesan dari satu atau beberapa
orang kepada khalayak ramai. Karena sifatnya yang masif, maka media komunikasi
massa dapat memiliki dampak yang besar bagi banyak orang. Contoh media
komunikasi massa adalah televisi, radio, hingga yang terbaru adalah media sosial
(instagram, twitter, youtube).
5. Komunikasi
Unsur-unsur komunikasi yang
selanjutnya adalah komunikasi itu sendiri. Komunikasi sebagai salah satu unsur
dalam unsur-unsur komunikasi dapat dibedakan dalam berbagai macam kategori,
mulai dari segi sifatnya, arahnya, hingga jumlah orang yang terlibat di
dalamnya. Unsur-unsur komunikasi ini umumnya dibedakan berdasarkan kategori
sifat, yakni dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu komunikasi verbal dan
komunikasi non verbal.
a. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan
bentuk komunikasi yang menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol-simbol verbal
ini dapat diwujudkan ke dalam bentuk lisan maupun tulisan. Unsur-unsur
komunikasi secara lisan dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih melalui
hubungan tatap muka secara langsung tanpa ada jarak maupun peralatan yang
menjadi medianya. Unsur-unsur komunikasi lisan dapat terlihat pada kegiatan
“ngobrol” yang dilakukan oleh orang-orang ketika berada di kantor, sekolah,
kampus, ataupun tempat-tempat lainnya.
Selain secara lisan,
unsur-unsur komunikasi verbal juga dapat dilakukan melalui tulisan. Unsur-unsur
komunikasi ini dapat berupa surat-menyurat konvensional, surat elektronik
(email), chatting, dan lain sebagainya.
b. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal
merupakan unsur-unsur komunikasi dalam bentuk komunikasi yang dilakukan tanpa
menggunakan kata-kata, melainkan melalui simbol-simbol lainnya. Komunikasi non
verbal dapat ditunjukkan oleh tubuh manusia secara alami melalui gerak isyarat,
bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata. Sementara itu, komunikasi non
verbal dapat pula ditunjukkan dari hal-hal lain seperti gaya berpakaian,
potongan rambut, intonasi suara, hingga gaya berjalan.
6. Efek
Unsur-unsur komunikasi yang
selanjutnya adalah efek. Efek merupakan unsur-unsur komunikasi yang memiliki
definisi hasil akhir dari suatu komunikasi. Efek komunikasi dapat beraneka
macam dan dapat dilihat dalam tiga kategori:
a. Personal opinion
Personal opinion adalah sikap dan pendapat seseorang pada suatu masalah tertentu
b. Publik opinion
Public opinion merupakan
penilaian sosial mengenai suatu hal berdasarkan proses pertukaran pikiran.
c. Majority opinion
Majority opinion dapat dipahami
sebagai pendapat yang disetujui oleh sebagian besar publik atau masyarakat.
Unsur-unsur komunikasi menurut william j. Seller
Jika sebelumnya kita telah membahas unsur-unsur komunikasi secara umum, maka William J Seller ternyata memiliki pendapat tersendiri mengenai unsur-unsur komunikasi. Menurutnya, unsur-unsur komunikasi dapat dipecah ke dalam unsur-unsur komunikasi yang lebih luas. William J. Seller membagi unsur-unsur komunikasi menjadi delapan, yakni:
1. Lingkungan komunikasi
Lingkungan sebagai unsur-unsur komunikasi memiliki tiga komponen
penting, yaitu:
a. Fisik
Fisik merupakan tempat dimana komunikai berlangsung.
b. Sosial-psikologis
Sosial-psikologis meliputi peran yang dijalankan oleh
orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Budaya dan lingkungan sosial juga
berpengaruh dalam unsur-unsur komunikasi ini.
c. Temporal (waktu)
Mencangkup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah
dimana komunikasi berlangsung.
2. Enkoding-Dekoding
Dalam ilmu komunikasi,
tindakan menghasilkan pesan disebut dengan encoding. Sementara
tindakan menerima pesan disebut dengan decoding. Oleh karena itu,
seorang komunikator seringkali disebut sebagai encoder dan seorang
komunikan disebut sebagai decoder. Sama seperti sumber-penerima, dalam
proses komunikasi, kita juga melakukan proses encoding-decoding
sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Proses ini terjadi secara
simultan dan timbal balik.
3. Sumber Penerima
Unsur-unsur komunikasi
selanjutnya adalah sumber penerima. Sumber penerima merupakan satu kesatuan
yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap otang yang terlibat dalam
komunikasi adalah sumber (komunikator) sekaligus penerima (komunikan).
4. Kompetensi Komunikasi
Kompetensi komunikasi
sebagai unsur-unsur komunikasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi secara efektif. Kompetensi dalam unsur-unsur komunikasi ini
mencangkup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam
memengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan.
5. Feed Back
Feed back atau umpan balik
dalam unsur-unsur komunikasi adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya.
6. Gangguan
Gangguan dalam unsur-unsur
komunikasi adalah gangguan yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi
penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan
dalam unsur-unsur komunikasi dapat membuat pesan yang disampaikan oleh
komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan.
7. Saluran
Saluran komunikasi merupakan
unsur-unsur komunikasi berupa media yang dilalui oleh pesan. Komunikasi
seringkali berlangsung melalui lebih dari satu saluran, namun menggunakan dua,
tiga, atau lebih saluran yang terjadi secara tumbang tindih.
8. Pesan
Pesan sebagai unsur-unsur
komunikasi memiliki banyak bentuk. Manusia mengirim dan menerima pesan melalui
salah satu atau kombinasi dari panca indera. Sama seperti unsur-unsur
komunikasi yang telah dibahas sebelumnya, pesan dalam unsur-unsur komunikasi
menurut William J. Seller juga terbagi dalam berbagai kategori.
Karakteristik
dan Keuntungan Belajar Melalui Pengalaman (Experiental Learning)
Experiential learning seringkali
diidentikkan dengan kegiatan outbound, yaitu pelatihan yang membawa pesertanya
ke alam terbuka. Banyak metode yang digunakan di dalamnya mulai dari simulasi,
demonstrasi, role-play atau memecahkan games dan metode-metode lainnya. Bagi
saya apa yang dipahami seperti ini adalah penyempitan dari makna experiential
learning itu sendiri.
Dari maknanya, experiential learning
secara sederhana dapat diartikan sebagai pembelajaran melalui pengalaman. Hal
tersebut menjelaskan bahwa seseorang diarahkan untuk belajar melalui proses
mengalami sendiri topik yang sedang dipelajarinya.
Karakteristik belajar melalui pengalaman adalah
sebagai berikut :
1.
Belajar
lebih dipersepsikan sebagai proses, bukan sebagai hasil.
2.
Belajar
adalah suatu proses yang berkesinambungan yang berpijak pada pengalaman.
3. Proses
belajar menuntut penyelesaian pertentangan antara modus-modus dasar untuk
beradaptasi dengan lingkungan.
4.
Belajar
merupakan proses adaptasi terhadap dunia luar secara utuh.
5.
Belajar merupakan
transaksi antara individu dengan lingkungan.
6.
Belajar
merupakan proses menciptakan ilmu pengetahuan.
Apabila metode Experiential
Learning dilakukan dengan baik dan benar, maka ada beberapa keuntungan
yang akan didapat, antara lain:
1.
meningkatkan
semangat dan gairah pembelajar,
2.
membantu
terciptanya suasana belajar yang kondusif,
3.
memunculkan
kegembiraan dalam proses belajar,
4.
mendorong
dan mengembangkan proses berpikir kreatif,
5.
menolong
pembelajar untuk dapat melihat dalam perspektif yang berbeda,
6.
memunculkan
kesadaran akan kebutuhan untuk berubah, dan\
7.
memperkuat
kesadaran diri.
2.3 Membuka Diri Dalam Interaksi
Dalam
suatu hubungan antar pribadi dimulai bila dua orang yang berhubungan mulai
saling membuka tentang dirinya.
Bila
kedua pribadi sudah saling membuka diri, maka kedua pribadi tersebut akan
saling memahami, atau tercipta suatu kondisi ”saya memahami anda, dan anda
memahami saya ”. Dalam pergaulan sehari-hari, khususnya interaksi yang terjadi
di sekolah maupun di masyarakat tempat kita berada sering dihadapkan pada
situasi yang mengharuskan kita untuk berkenalan dan membuka diri dengan orang
lain.
Membuka
diri merupakan suatu tindakan menyatakan bagaimana seseorang menanggapi situasi
saat ini dan memberikan sejumlah pengalaman-pengalaman berdasarkan pemahaman
dirinya saat itu. Membuka diri merupakan kemampuan seseorang untuk melihat
kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri, sehingga dapat melakukan respon yang
tepat terhadap tuntutan yang muncul dari dalam maupun dari luar. Keterbukaan
diri di sini tidak sekedar bermaksud mengungkapkan kehidupan masa lalu
seseorang semata, tetapi lebih dari itu, untuk meningkatkan kualitas hubungan
seseorang.Di dalam membuka diri diperlukan kejujuran masing-masing individu
yang berinteraksi. Membuat suatu pengakuan pribadi secara jujur dan tulus
tentang masa lalunya dapat membentuk keintiman perasaan dalam suatu hubungan.
Suatu hubungan yang baik dan telah tercipta keintiman pada seseorang,akan
menciptakan keterbukaan seseorang pada peristiwa-peristiwa yang pernah
dialaminya atau segala apa yang orang lain pernah katakan atau lakukan di masa
lalunya. Bila kita secara sengaja dan jujur, tulus memberikan informasi yang
benar tentang diri kita kepada orang lain, berarti kita telah membuka diri
dengan orang lain. Misalnya, ketikaanda duduk di ruang tunggu pemberangkatan
bus di terminal, sebelah anda ada seseorang,dan kemudian anda mengajak
bercakap-cakap.
Di
dalam proses percakapan,anda memberitahukan informasi nama, alamat tinggal,
pekerjaan, arah tujuan mau pergi kemana, dan hal-hal lain mengenai diri anda,
berarti secara tidak langsung anda sudah membuka diri. Apabila di dalam suatu
proses interaksi antar induvidu, kedua belah pihak induvidu memberikan
informasi secara jujur, tulus dan saling terbuka, maka akan menghasilkan suatu
proses hubungan yang efektif. Tetapi sebaliknya jika informasi-informasi yang
disampaikan salah.
2.4 Cara Mempengaruhi Orang Lain dengan Menggunakan Metode Persuasif
Metode ini paling banyak digunakan
untuk membujuk (to persuade) orang sehingga secara tidak sadar mengikuti
keinginan komunikator yang menyampaikan bujukan. Dengan metode persuasi,
seseorang atau sekelompok orang tidak merasa bahwa perubahan dalam dirinya
adalah akibat pengaruh dari luar. Dia yakin bahwa dorongan merubah sikap,
pendapat atau perilakunya memang sudah lama ada dalam dirinya. Metode ini yang
akan dibahas lebih lanjut karena dari pengalaman para ahli pemasaran dan
perubah perilaku, persuasi adalah metode yang terbukti paling ampuh dalam
mendorong perubahan dan mempertahankan perubahan itu dalam jangka yang sangat
lama.
A.
Falsafah Komunikasi Persuasif
Manusia dan komunikasi merupakan satu
kesatuan. Komunikasi melekat pada diri manusia, sehingga we can not live
without communicate. Keberadaan komunikasi, karena begitu melekatnya pada
diri manusia sering tidak disadari. Manusia cenderung beranggapan bahwa dirinya
mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi. Akibatnya, masalah-masalah yang muncul
yang berkaitan dengan komunikasi, seringkali diselesaikan sendiri.
Dalam mempelajari komunikasi
persuasif, memahami aspek filosofis komunikasi persuasif, sangat ditekankan.
Hal ini mengingat bahwa komunikasi persuasif, sebagaimana halnya ilmu-ilmu yang
lain, memiliki tiga aspek filosofis keilmuan, yaitu aspek ontologi, aspek epistemologi,
dan aspek aksiologi.
Dengan memahami ketiga aspek filosofi
ilmu tersebut, kita dapat membedakan berbagai ilmu pengetahuan yang terdapat di
dalam khasanah kehidupan manusia. Hal yang terpenting adalah kita akan
mengenali ciri-ciri dari Ilmu Komunikasi Persuasif, serta dapat memanfaatkannya
secara maksimal untuk kesejahteraan umat manusia.
Aspek ontologi, menyangkut pertanyaan
apa yang dikaji oleh suatu ilmu, aspek epistemologi berkaitan dengan pertanyaan
cara-cara memperoleh ilmu tersebut, dan aspek aksiologi berkenaan dengan
pertanyaan penggunaan dari ilmu tersebut.Dalam melakukan komunikasi persuasif,
kita harus memahami kriteria tanggung jawab persuasi, sebagaimana yang
dikemukakan Larson, yaitu adanya kesempatan yang sama untuk saling
mempengaruhi, memberi tahu audiens tentang tujuan persuasi, dan
mempertimbangkan kehadiran audiens“.
B.
Konsep-konsep Dasar Komunikasi Persuasif
Komunikasi ada dalam segala aktivitas
hidup kita. Bentuknya bisa berupa tulisan, lisan, gambar, isyarat, kata-kata
yang dicetak, simbol visual, audio visual, rabaan, suara, kimiawi, komunikasi
dengan diri sendiri, kelompok, organisasi, antarpersona, dialogis, dan
lain-lain.
Istilah komunikasi berasal dari bahasa
Latin ”communicare”, yang berarti berpartisipasi, memberitahukan, atau
menjadi milik bersama.
Dalam definisi komunikasi yang
dikemukakan beberapa ahli, walaupun pengungkapannya beragam, namun terdapat
kesamaan telaah atas fenomena komunikasi. Kesamaan tersebut nampak dalam isi
yang tercakup di dalamnya, yaitu adanya komunikator, komunikan, pesan,
media/saluran, umpan balik, efek, dampak serta adanya tujuan dan terbentuknya
pengertian bersama.
Untuk memahami komunikasi, dapat
dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif umum dan perspektif paradigmatik.
Perspektif secara umum dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengertian secara
etimologis, dan pengertian secara terminologis.
Istilah persuasi bersumber dari bahasa
Latin, persuasio, yang berarti membujuk, mengajak atau merayu.
Persuasi bisa dilakukan secara
rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada
diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun
konsep. Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek
afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui
cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah.
Dari beberapa definisi komunikasi yang
dikemukakan oleh para ahli, tampak bahwa persuasi merupakan proses komunikasi
yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap, pendapat dan perilaku seseorang, baik
secara verbal maupun nonverbal.
Komponen-komponen dalam persuasi
meliputi bentuk dari proses komunikasi yang dapat menimbulkan perubahan,
dilakukan secara sadar ataupun tidak sadar, dilakukan secara verbal maupun
nonverbal. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi
meliputi kejelasan tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi,
serta memilih strategi yang tepat.
Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi
persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media, penerima, efek, umpan balik,
dan konteks situasional.
Pendekatan yang digunakan dalam
komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis. Tiga fungsi utama komunikasi
persuasif adalah control function, consumer protection function,
dan knowledge function.
C. Trik
dalam Komunikasi Persuasif
Inilah sembilan trik yang dapat Anda
terapkan untuk dapat membujuk dan mempengaruhi orang lain:
1. Bercermin dengan orang lain.
Lakukan hal ini dengan menirukan gerakan tangan, membungkukkan badan ke depan
atau belakang, atau berbagai gerakan kepala dan lengan lainnya. Kadang-kadang
kita melakukannya tanpa sadar, namun bila Anda menyadarinya, pelajari lebih
lanjut. Beberapa hal yang perlu diingat adalah Anda harus melakukannya dengan
halus, dan buat jeda sekitar 2-4 detik antara gerakan orang tersebut dengan
gerakan Anda.
2. Kelangkaan. Inilah yang paling
sering dilakukan seorang pembuat iklan. Kesempatan memiliki sesuatu terlihat
sangat menarik ketika persediaan begitu terbatas. Hal ini akan berguna untuk
orang yang memang sedang membutuhkan, namun yang lebih penting, inilah metode
persuasi yang harus diwaspadai. Berhentilah, dan pertimbangkan seberapa sering
Anda dipengaruhi berita bahwa sebuah produk sedang langka? Jika memang produk
itu langka, tentu akan ada banyak permintaan untuk barang tersebut bukan?
3. Membalas budi. Ketika seseorang
berbuat baik pada kita, kita sering merasa dituntut untuk melakukan sesuatu
untuknya. Jadi, jika Anda ingin seseorang melakukan sesuatu untuk Anda, Anda
bisa memberikan sesuatu yang baik untuknya lebih dulu. Di lingkungan rumah,
misalnya, Anda bisa menawarkan untuk meminjamkan peralatan memasak, tangga,
atau apa pun, kepada tetangga yang terlihat sedang membutuhkan. Tidak masalah
kapan, atau dimana Anda melakukannya, kuncinya adalah menghargai hubungan yang
ada.
4. Waktu yang tepat. Orang cenderung
setuju atau menurut pada Anda ketika mereka merasakan kelelahan secara mental.
Sebelum Anda meminta sesuatu pada seseorang yang mungkin tidak akan langsung
disetujuinya, cobalah untuk menunggu sampai ada kesempatan dimana mereka baru
saja melakukan sesuatu karena terdesak. Temui dia saat hendak pulang dari
kantor, dan katakan apa yang Anda mau. Seringkali jawabannya adalah, “Besok
deh, aku kerjakan.”
5. Keserasian. Teknik ini kerap
digunakan para petugas penjualan. Seorang salespeople akan menjabat tangan Anda
saat sedang bernegosiasi. Dalam benak kebanyakan orang, berjabat tangan artinya
bersepakat, sehingga dengan melakukannya sebelum kesepakatan tercapai, petugas
sales seolah sudah mendapatkan transaksi yang ia inginkan. Cara yang tepat
untuk melakukannya pada kegiatan sehari-hari adalah membuat seseorang bertindak
sebelum mereka memutuskan. Misalnya, Anda mengajak seorang teman jalan-jalan,
dan Anda ingin menonton film (padahal sang teman sedang tidak ingin). Anda bisa
langsung mengajaknya ke bioskop sementara teman Anda sedang membuat keputusan
akan menonton atau tidak.
6. Obrolan yang cair. Saat sedang
berbicara, seringkali kita menggunakan frasa seperti “Mm…” atau “Maksud saya…”
dan kata-kata lain yang menimbulkan jeda di tengah pembicaraan. Hal seperti ini
sebenarnya menunjukkan rasa kurang percaya diri kita, yang dengan sendirinya
membuat kita kurang persuasif. Jika Anda yakin dengan apa yang Anda katakan,
orang lain pun akan mudah terbujuk dengan apa pun yang Anda katakan.
7. Menggiring. Kita semua terlahir
menjadi pengikut. Kita sering memperhatikan apa yang dilakukan orang lain
sebelum kita bertindak, karena kita membutuhkan penerimaan dari orang lain.
Secara sederhana, cara efektif untuk menggunakan kebiasaan ini adalah dengan
menjadi pemimpin, membuat orang lain mengikuti Anda. Misalnya, Anda sedang
menghadiri seminar, dan memilih duduk di tengah-tengah. Begitu seminar dimulai,
sang MC meminta hadirin untuk mengisi bangku-bangku kosong di depan. Nah,
cobalah untuk menjadi orang pertama yang menggiring orang lain untuk menempati
bangku tersebut.
8. Benefit. Tunjukkan pada orang
lain apa keuntungan bagi mereka jika melakukan tindakan yang Anda sarankan ini.
Namun perhatikan apa yang Anda sampaikan. Anda harus mengatakannya dengan
optimis, mendorong, dan menyenangkan mereka. Sikap pesimis dan mengkritik tidak
akan membantu. Coba ingat bagaimana Obama memenangkan pemilu akhir tahun lalu.
Kata kuncinya adalah “Yes, we can!”. Mengatakan hal-hal buruk tentang orang
lain, seperti yang dilakukan John McCain, tidak akan membuat orang bersimpati.
9. Teman-teman dan penguasa. Kita
cenderung akan mengikuti atau terbujuk oleh seseorang yang berada di posisi
yang lebih tinggi. Ini menjadi contoh yang baik untuk waspada akan “serangan”
persuasif yang sedang dilakukan terhadap Anda. Di pihak lain, menjadi cara yang
baik pula bagi Anda untuk melakukannya pada orang lain karena Anda akan
terkejut betapa mudah membuat orang menyukai Anda dan memperoleh kekuasaan di
antara kelompok Anda
D.
Contoh Penggunaan Persuasif Sebagai Sebuah Strategi Komunikasi untuk
Meningkatkan Minat Baca
Persuasi sebagai sebuah metode yang
dipilih sebagai strategi komunikasi karena tujuan dari komunikasi yang
dilakukan oleh pustakawan adalah lahirnya minat baca dan minat kunjung perpustakaan.
Minat (interest) dalam pengertian umum adalah kecenderungan perilaku yang
berasal dari dalam diri individi yang dapat menggambarkan sikap dan pendapat
seseorang terhadap sebuah objek sebagai sebuah awal sebelum akhirnya menjadi
sebuah tindakan.
Dengan pengertian lain bahwa minat selalu
muncul dari dalam diri seseorang yang bangkit atau dibangkitkan karena
ketertarikan pada sesuatu di luar dirinya.
Untuk dapat menjalankan metode
persuasi diperlukan beberapa komponen komunikasi yang harus terlibat secara
utuh dan berkaitan satu sama lain dengan erat. Berikut akan diuraikan masing
komponennya:
1.
Komunikator
Komunikator adalah orang
yang menyampaikan pesan komunikasi sehingga dapat sampai dan dimengarti oleh
penerimanya. Untuk dapat menggunakan metode persuasi secara efisien, seorang
pustakawan yang bertindak sebagai komunikator haruslah orang yang memiliki
kredibilitas tinggi (diukur dari kecakapan berkomunikasi lisan dan tulisan,
penampilan yang menyenangkan, sikap yang meyakinkan, percaya diri yang tinggi)
sehingga menumbuhkan kepercayaan bagi mereka yang menerima pesan. Apabila di
perpustakaan belum terdapat orang dengan kriteria itu, bisa juga meminta
bantuan (menyewa) orang yang sudah ahli sebagai konsultan atau pelaku langsung.
Disamping kredibilitas, komunikator
juga dituntut untuk menilai positif (positiveness) dan mendukung
(supportiveness) tujuan komunikasi. Komunikator juga harus terbuka dan jujur.
Penerima pesan tidak boleh melihat ada kesan ketidak jujuran pada diri
komunikator. Untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan dan disukai
oleh sasaran komunikasi, seorang komunikator harus memiliki empati atau
kepekaan pada apa yang dirasakan oleh sasaran sehingga dia merasa diperhatikan.
Orang sangat suka diperhatikan, dan itulah yang seharusnya diberikan oleh
seorang komunikator.
2. Pesan Komunikasi
Setelah komunikator terpilih, komponen
kedua yang juga harus diperlakukan dengan sangat hati-hati adalah pesan
komunikasi. Berbeda dengan pesan informatif yang sangat kuat dalam memberikan
instruksi atau saran tindakan, atau dengan pesan koersi yang terasa dan jelas
sekali kesan ancaman yang disampaikan, pesan persuasi harus sangat halus dan
hampir tidak kentara “paksaannya.” Pesan tidak boleh terasa diarahkan pada
sasaran, tetapi justru berkesan bahwa pesan adalah untuk orang lain. Tidak ada
instruksi di dalamnya melainkan contoh hasil tindakan orang lain. Melalui
kemasan pesan seperti ini maka yang akan muncul pada individu atau kelompok
sasaran adalah keinginan meniru orang lain yang dicontohkan, bukan karena
merasa disuruh atau dipaksa berbuat. Perhatikan contoh pesan berikut (konsep
ini juga digunakan oleh banyak iklan):
“Bacalah buku
dan kunjungi perpustakaan, maka anda akan menjadi orang yang cerdas dan
mendunia”
Perhatikan pesan
kedua:
“Tantowi Yahya
tidak pernah lupa membaca setiap hari. Seminggu dua kali ia
kunjungi perpustakaan. Itu yang membuatnya nampak cerdas dalam
mengantarkan acara Who wants to be a millionaire.”
kunjungi perpustakaan. Itu yang membuatnya nampak cerdas dalam
mengantarkan acara Who wants to be a millionaire.”
Pada pesan pertama kesan ‘perintah’
sangat terasa (BACALAH) walaupun niatnya adalah menghimbau, bukan memaksa.
Sedangkan pada pesan kedua, pembaca tidak pernah diminta berbuat apapun, hanya
ditunjukkan sebuah contoh.Untuk dapat
menyusun pesan persuasi yang baik dan kuat, seorang pustakawan harus rajin
membaca dan mengkaji pesan-pesan dalam iklan, kemudian memilih yang dinilai
paling efisien untuk kemudian menjadikannya sebagai dasar gagasan (bukan
menjiplak!) dalam membuat pesan persuasi tentang apa yang akan terjadi pada
seseorang jika membaca dan berkunjung ke perpustakaan.
3. Media Komunikasi
Dalam metode persuasi, media merupakan
komponen yang cukup penting karena jika terpilih dengan tepat akan mampu
menyampaikan pesan persuasi dan menjangkau sasaran dengan tepat. Maka seorang
pustakawan harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang karakter umum setiap
jenis dn bentuk media komunikasi (bukan kajian ilmiahnya).
Bentuk media komunikasi secara umum
terdiri atas media personal (untuk sasaran perorangan), media kelompok
(menjangkau sasaran kelompok pada sebuah tempat tertentu), dan media massa
(menjangkau sasaran yang besar dan berbeda tempat). Sedangkan jenis media
adalah cetak dan elektronik. Jadi jika digabungkan terdapat kelompok media
personal elektronik (telefon, e-mail), media personal cetak (surat, kartu
ucapan), media kelompok elektronik (millist, facebook, bulletin board), media
kelompok cetak (poster, terbitan internal), dan media massa elektronik
(televisi, radio), media massa cetak (koran, majalah).
Pemilihan media dilakukan setelah
pustakawan mengetahui media yang paling sering diakses oleh sasaran (dengan
alasan mudah diperoleh, dimiliki dan digunakan oleh sasaran). Dengan
pengetahuan ini maka tingkat jaminan bahwa pesan akan ‘terbaca’ (accessed/
reached) oleh sasaran menjadi cukup tinggi. Pustakawan tidak boleh menggunakan
media karena dia suka dan hanya bisa menggunakan media tertentu saja.
Setelah media ditentukan, maka langkah
selanjutnya adalah pengemasan pesan yang disesuaikan dengan sifat media
terpilih. Misalnya media massa elektronik memiliki sifat ‘selintas dan tak
terulang’, maka pesan yang disampaikan harus sangat pendek dan mudah diingat
atau sangat berkesan. Adegan seorang Agnes Monica sedang membaca buku di meja
baca perpustakaan UPH lebih mengesankan dan mudah diingat dibandingkan
sekumpulan teks tentang guna dan manfaat membaca di perpustakaan. Tetapi dalam
sebuah Blog pustakawan, orang lebih ‘berminat’ membaca pengalaman sang
pustakawan bertemu presiden RI setelah menang lomba menulis cerita yang
bahannya dia ambil dari Perpustakaan Umum Kota Bangka (atau peristiwanya
dikarang layaknya sebuah iklan!).
Di samping isi, pesan juga harus dikemas dengan daya tarik tinggi.
Kembali lagi, dasar kemasan adalah karakter sasaran komunikasi. Sasaran remaja
harus mendapat pesan persuasif dalam kemasan yang bergaya muda, baik pilihan
kata, jenis huruf, warna dan ilustrasi yang ditempelkannya. Begitu pula bagi
sasaran anak-anak atau orang dewasa.
Untuk bisa
mempengaruhi orang lain, Anda harus bisa melakukan sesuatu di luar perkiraan
dan melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang sering terlihat. Percaya dirilah
sepenuhnya pada diri sendiri dan apa yang ingin Anda capai. Berikan saran,
nasihat, dan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Terakhir, ketahui dampak
dari apapun tindakan Anda dan perlihatkan kepada mereka dampak tersebut agar
mereka bisa paham.
2.
Mempengaruhi Rekan Kerja
3.
Tingkatkan Kepercayaan Diri.
Anda bisa mempengaruhi orang lain untuk
melakukan hal yang Anda minta dengan modal percaya diri. Orang yang percaya
diri cenderung lebih mampu memimpin daripada mereka yang kurang percaya diri
dan sering merasa khawatir. Postur tubuh dan nada bicara yang tegas, serta
pikiran yang positif akan mengindikasikan sifat yang tenang dan kuat, dan
keduanya adalah sifat yang dicari oleh orang banyak dan diikuti agar mereka
bisa memiliki sifat tersebut.
Salah
satu cara untuk terdengar percaya diri adalah menghindari kata-kata yang
meragukan seperti “mungkin” dan “mencoba”. Daripada mengatakan “kita akan
mencoba mengatasi masalah ini dengan melakukan A dan B,” katakan “kita akan
mengatasi masalah ini dengan cara ini.” Dengan menghilangkan kata-kata yang
meragukan, orang-orang akan percaya bahwa Anda memiliki soulsi dan jawaban yang
mereka cari, sehingga mereka akan mau mengikuti Anda.
Franklin D. Roosevelt memiliki pengaruh yang
sangat kuat bagi orang Amerika di masa Perang Dunia 2 dengan mengatakan “kita
akan menang secara mutlak” dengan penuh percaya diri di pidatonya di tahun 1941
setelah serangan di Pearl Harbor oleh Jepang. “Tidak peduli berapa lamapun
waktu yang diperlukan untuk mengatasi serangan terencana ini, Amerika, dengan
kemampuannya, akan menang secara mutlak.”
1. Lakukan riset dan tingkatkan
pengetahuan dan wawasan anda. Cari tahu apa yang sebenarnya ingin anda capai
dan pelajari segala sesuatu yang ingin anda pengaruhi kepda orang lain dan siap
menjawab pertanyaan apapun mengenai topik tersebut. Dengan memiliki pengetahuan
dan wawasan. Anda akan memiliki otoritas. Ridet akan membuat paham anda
mengenai topik dan anda bisa membuat orang lain kagum dengan keahlian anda.
Dengan pengetahuan orang lain akan ingin belajar dengan anda.
Secara alami, manusia akan
selalu mendengarkan orang yang tahu lebih banyak, karena ingin mendapatkan
nasihat, filosofi, dan kebijaksanaan darinya.
2. Kenali orang yang ingin anda pengaruhi.
Dale carnegie pernah mengatakan dalam buku” how to win
friends and influence people”. “ketika bicara dengan orang lain, maka mereka
dan mereka akan mau mendengarkan selama berjam-jam. Orang akan langsung
menyukai anda jika anda memperlihatkan ketertarikan pada mereka lebih dulu.
Kenali hobi mereka, apa yang mereka sukai dan tidak sukai,dan sebagainya.
Membangun rasa percaya diri anda.
3. Pastikan anda tampak jujur dengan menjadi orang yang
tulen dan absolut. Mengatakan kebohongan akan membuat anda berada dalam masalah
jika ketahuan. Membelokkan kebenaran yang ada hanya akan membuat orang tidak
percaya dan melawan anda, dan itu tentu membuat anda sulit mempengaruhi orang
lain.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mengajar yang efektif berarti mencapai tujuan, siswa
belajar meraih target sesuai dengan kriteria target pada perencanaan. Mengajar
yang efektif jika siswa dapat menyerap materi pelajaran dan mempraktekannya
sehingga memperoleh keterampilan terbaiknya. Mengajar yang efektif
berarti guru dapat menggunakan waktu yang sesingkat-singkatnya dengan hasil
setinggi-tingginya. Jadi mengajar yang efektif berarti mengajar yang efisien.
Jika kebervariasian metode mengajar menjadi ciri
efektifnya guru mengajar, maka guru yang profesional harus ditandai dengan
menguasai sejumlah metode dan mampu mengaplikasikannya. Pekerjaan itu baru
sempurna dinyatakan efektif jika benar-benar memfasilitasi siswa belajar untuk
menguasai kompetensi yang diharapkan.
3.2
Saran
Saran untuk para guru jika
menggunakan strategi pembelajaran inquiry harus mengikuti prosedur yang ada dan harus
disesuaikan dengan waktu yang dimiliki, karena strategi pembelajaran inquiry ini sangat membutuhkan waktu yang panjang.
Karena makalah ini belum
sempurna maka penulis mengharapkan saran yang membangun agar dapat bermanfaat
bagi semua dan demi perbaikan makalah selanjutnya.